EMANSIPASI WANITA (?)
07.27
Emansipasi wanita, dua kata ini naik daun berkat jasa dari
ibu kita Kartini. Dan sampai hari ini, hari di mana bumi mulai dimeriahkan oleh
penampilan para ABG yang beridentitaskan cabe-cabean juga para alayer berserta
kawan-kawan sejenisnya, emansipasi wanita masih tetap (terlihat dan terasa)
harus diperjuangkan.
Jujur, pengetahuan gue sangat terbatas dalam hal ini. Paling juga
gue harus nengokin mbah Google untuk
menyegarkan kembali materi tentang emansipasi. Hanya saja berkaitan dengan
hal ini, beberapa hari lalu, ketika gue naik commuter line jurusan Serpong-Tanah Abang, ada hal yang menurut gue
cukup menarik perhatian.
Waktu itu gue naik kereta ketika orang-orang tumpah ruah di
tempat pelayanan transportasi umum—stasiun kereta salah satunya. Sekitar pukul
enam pagi, gue sudah berada di dalam salah satu gerbong yang mana ketika gue naik masih banyak tempat duduk yang kosong.
Berhubung gue naik di gerbong yang tidak dikhususkan untuk wanita,
jadi gue pun duduk sebelahan sama lawan jenis. Gak butuh waktu lama, akhirnya
tempat duduk pun penuh. Kemudian mulai terlihatlah sosok-sosok
bergelantungan... eh, maksud gue sudah mulai tampak penumpang-penumpang yang
mau gak mau harus berdiri sampai stasiun tujuan masing-masing.
Nah, beberapa menit menjelang keberangkatan masuklah
seorang wanita, dan ia langsung berjalan menuju deretan tempat duduk gue. Dengan
wajah tanpa senyum, tanpa ragu ia meminta tempat duduk dari seorang pria yang
duduk tepat di sebelah gue. Kemudian ketika si pria berdiri, masih dengan wajah
tanpa senyum, apalagi mengucapkan terima kasih, si wanita pun duduk untuk
selanjutnya tenggelam dalam hubungan segitiganya—ia, smartphone, earphone.
Seperti yang kita tahu, wanita hamil, penyandang cacat, juga
penumpang yang telah lanjut usia memang diprioritaskan untuk mendapatkan tempat
duduk. Memang, gue gak sampai melototin
si Mbak tersebut (gue panggil Mbak aja kali, ya?), secara gue gak kepo-an amat
yah jadi orang. Tapi ya gue yakinlah dia bukan penyandang cacat apalagi lanjut
usia. Ya memang gue gak tahu dia hamil atau gak, tapi yang pasti gue lihat
perutnya rata, gak kaya gue... ada polisi tidurnya. Eh?!
Trus masalahnya di mana? Toh juga si Mas yang diminta tempat
duduknya gak ada komplen sama sekali, malah (terlihat) ikhlas ikut serta
bergelantungan.
Ya memang gak ada masalah, bahkan mungkin... selain gue gak
ada orang lain yang memerhatikan hal tersebut. Bisa jadi gue-lah yang bermasalah
karena melihat hal tersebut sebagai sesuatu yang... kalau memang bukan sebagai
masalah, malah sebagai sesuatu
yang cukup menarik.
Begini, kita anggap saja si Mba memang sedang tidak hamil
(muda). Bisa saja di bandingkan si Mba, si Mas ini membutuhkan waktu tempuh
yang lebih lama dari rumah menuju stasiun. Karena si Mas sudah mengatur
waktunya sedemikian rupa, atau... ya anggaplah ia sedang beruntung, jadi dia
bisa dapet tempat duduk.
Kemudian, bisa saja Si Mba ini memang bangunnya telat. Atau
bangun tidurnya memang gak telat tapi nguletnya pake acara panjang kali lebar,
jadinya nyampe stasiun ya gak kebagian jatah tempat duduk. Namun... karena si
Mba merasa ia adalah seorang wanita, maka ia pun meminta tempat duduk, tanpa
senyum dan tanpa terima kasih.
Emansipasi wanika-kah ini?! Gimana kalau suatu saat nanti
para pria yang nasibnya sama seperti si Mas ini merasa terdzalimi? Kemudian mulai
berontak dan menuntut balik emansipasi ke-pria-an mereka? Ga asik dong, kita
para wanita jadi gak punya jargon spesial lagi—emansipasi wanita—dikarenakan
para pria pun akan menuntut hal yang sama.
Menurut gue, dalam hal seperti ini pria dan wanita memiliki
hak yang sama. Sebagia wanita, coba deh make
sure dulu, kalau memang lo gak termasuk golongan penyandang cacat, lo masih
dalam usia yang produktif, lo yakin di perut lo ga ada hasil karya lo dan
pasangan, gak muntaber, gak lagi kena anemia, gak lagi haid hari pertama, dan
gak lagi PMS, so... lo gak harus
meminta sesuatu yang sebenernya juga hak dari lawan jenis lo.
Atau... kalau memang lo termasuk tipe yang sudah membiasakan
diri lo seperti itu, at least...
kasih senyum kek, say thanks-lah, apa
susahnya, sih? Kali aja si Mas masih single
dan lo sedang dalam tahap move-on,
trus dia kepincut sama senyum lo, akhirnya tuker-tukeran pin BB, kalau perlu
pin ATM sekalian. Lumayan banget kan, daripada lo manyun?! Yah, semacam film yang
judulnya “Commuter Line I’m in Love”
gitu, deh. Ah, gak ada filmnya? Baiklah... berarti gue salah inget judul film.
Intinya, gak ada salahnya kok untuk kita bersikap manis
dengan cara tersenyum dan mengucapkan terima kasih, juga menyadari kalau ada
kalanya pria pun tidak harus selalu “mengalah” terhadap wanita. Jangan cuma
bisa menuntut, tapi belajarlah juga untuk menghargai.

0 komentar