TENTANG BALI YANG (MASIH) TAK BERUBAH
23.59
Dua hari telah berlalu sedari gue balik dari kampung. Ya, gue baru balik dari Bali. Melalui lima hari di Bali bareng suami dan juga keluarga memang membuat waktu terasa berlalu begitu cepat. Lima hari... waktu yang benar-benar singkat, yang bahkan gue rasakan sedari awal begitu kaki gue menapaki pulau ini.
Delapan tahun sudah gue menjadi seorang perantau, dari yang awalnya sendiri sampai sekarang sudah memiliki gandengan resmi alias suami. Maksimal tiga kali dalam setahun, gue mengatur cuti sedemikian rupa hingga gue bisa menapakkan kaki di tanah kelahiran. Yah, walaupun satu periode cuti paling lama hanya tujuh hari. Lumayanlah... ketimbang gue cuma bisa ngeces liat masakan-masakan Bali favorit gue nongol di TV atau dari postingan teman-teman di sosmed, paling gak gue punya kesempatan tujuh hari untuk memuaskan nafsu perut karung gue.
Delapan tahun bagi gue bukan waktu yang singkat. Perubahan pasti terjadi, baik terhadap diri gue sendiri, pun terjadi pada keluarga gue di Bali, dan tak lepas juga perubahan yang terjadi di dalam lingkungan. Kata orang, Bali yang sekarang gak seindah dan seramah dahulu. Bahkan, kemacetan yang gue kira jadi hak paten kota Jakarta pun kini setia menemani kehidupan berlalu-lintas di beberapa tempat di Bali. Hingga ocehan miring tentang orang-orang asli Bali yang lebih memilih untuk melepaskan tanah warisan mereka kepada investor asing demi memenuhi keinginan mereka akan gaya hidup yang tak lagi sesederhana dahulu, dan masih banyak lagi perubahan lain yang terjadi.
Namun, perubahan tentu tidaklah menyentuh semua hal. Di bawah ini adalah beberapa hal yang (menurut pandangan gue) masih sama seperti dulu, seperti saat gue masih menjalani kehidupan gue di Bali.
1. Wangi dupa dan kembang di sepanjang jalan
Tidak tergantung akan ada/tidaknya rahinan (hari raya
), wewangian ini adalah kekhasan yang (mungkin) hanya bisa ditemui di Bali. Pagi dan sore adalah waktu di mana para masyarakat Hindu senantiasa menghanturkan canang. Wangi dupa dan kembang ini begitu semerbak sampai ke jalan raya dikarenakan canang yang dihaturkan di pemedal (pelinggih di sisi pintu masuk/pagar) rumah masing-masing.2. Janganlah menilai isi buku hanya dari sampulnya.
Suatu pagi, gue dan suami duduk sembari ngopi di depan sebuah minimarket. Saat itu seorang laki-laki yang kemudian kami ketahui sebagai tukang parkir cukup menarik perhatian kami dikarenakan penampilannya yang sama dengan preman yang sering kami temui di Jakarta. Terlihat kedua lengannya yang penuh tatto, juga anting yang ia kenakan di kedua telinganya. Namun hal yang menarik, ia juga memakai gelang tridatu (gelang tiga warna perlambang Tri Murti yang dikenakan umat Hindu) dan kala itu ia juga tengah menggunakan senteng (selendang), serta canang lengkap dengan dupa dalam genggamannya. Wangi dupa dan kembang pun kembali menghampiri indera penciuman kami, datang dari seorang laki-laki yang penampilannya seperti preman tersebut.
3. Keramahan di area Bandara
Gue bukan seorang traveller, jadi gue cuma pernah keluar-masuk Bandara Ngurah Rai dan Soekarno Hatta. Yang ingin gue sampaikan adalah hal-hal yang gue rasakan tidak berubah dari Bali, bukan perbandingan terhadap daerah lain. Nah, yang masih gue rasakan sama adalah keramahan para penjual jasa transportasi, para supir taxy contohnya. Entah dikarenakan euforia kepulangan ke kampung halaman, atau mungkin karena Bali memang destinasi wisata, yang gue rasakan adalah gue ingin membalas senyum mereka meskipun ketika gue menolak jasa mereka. Seketika... gambaran supir juga kenek metromini khas kota Jakarta menguap dari ingatan gue.
4. Wisata pantai yang terjangkau
Well, gue tau kalau Bali itu pulau yang dikelilingi oleh pantai, yang mana idealnya mudah bagi masyarakat bali atau pun wisatawan menikmati wisata pantai. Lah, tapi bukannya (katanya) tidak jarang orang Bali yang menjual tanah mereka kepada para investor. Nah, tidak menutup kemungkinan kalau pantai pun menjadi hal yang susah atau mahal untuk kita temui jika kuasa para investor semakin merajalela. Tentu... ini bukanlah hal yang kita harapkan.
5. Tempat makan dengan rasa 'legend'
Nah... kalau yang satu ini sih tergantung kepada kesukaan masing-masing. Kalau gue, sih... karena memang hobi makan, jadi semua makanan terasa enak di lidah. Berbeda halnya dengan suami. Ia memiliki definisi selektif terhadap penentuan rasa enak. Hanya beberapa tempat makan yang menurut dia pantas mendapatkan jempol untuk rasa masakannya. Ada beberapa tempat makan yang menurutt dia memiliki cita-rasa legend, dalam artian selain rasanya sangat lezat dan khas, juga fakta bahwa rasanya tidak pernah berubah sedari ia kecil hingga kini usianya pertengahan tigapuluh. Beberapa tempat makan yang selalu ia datangi setiap kali pulang ke Bali adalah Depot Amla di daerah Busung Yeh, warung nasi be guling di daerah Gerenceng, dan warung soto sapi di Banjar Celagigendong, Denpasar. Untuk masalah rasa, jangan ditanya lagi... Bloody Taste! Rasa yang khas, yang tidak akan bisa kami temui di luaran, meskipun kami makan masakan dengan judul yang sama.
Yup, apa yang gue tulis di atas adalah hal-hal sederhana yang menurut gue belum berubah dan gue harapkan tidak akan pernah berubah. Hal-hal sederhana yang menjadikan Bali sebagai rumah yang tak akan pernah tergantikan, hal-hal yang akan selalu gue dan suami rindukan, juga pasti kami ceritakan kepada anak-anak kami nantinya.

0 komentar